Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan Uang

Posted: January 9, 2011 in Studi Ekonomi

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Uang merupakan sesuatu benda yang diterima secara umum oleh masyarakat, sehingga untuk melakukan transaksi ekonomi tidak mengalami kesulitan, karena salah satu fungsi dari uang adalah sebagai standart nilai, maka seluruh barang atau jasa dinilai dengan satuan uang. Uang merupakan unsur terpenting dalam suatu sistem perekonomian modern. Kehadiran uang sudah melembaga dalam masyarakat, sehingga segala aktivitas masyarakat dipengaruhi, diukur dan banyak ditentukan oleh uang. Dengan adanya uang, transaksi yang dilakukan oleh manusia menjadi lebih mudah, cepat, dan tidak terlalu dibatasi lagi oleh dimensi waktu.

Pengertian permintaan uang dapat didefinisikan sebagai keseluruhan jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat dan perusahaan (Sadono Sukirno:2000). Dalam kajian mengenai teori permintaan uang, ada beberapa golongan yang berpendapat. Pertama golongan kaum Klasik, golongan ini menganggap bahwa uang tidak memiliki pengaruh terhadap sektor riil, suku bunga, kesempatan kerja dan pendapatan nasional. Uang hanya berpengaruh terhadap harga barang. Bertambahnya uang beredar akan mengakibatkan kenaikan harga saja, sedangkan jumlah output yang dihasilkan tidak berubah. Teori permintaan uang Klasik dikenal dengan teori kuantitas uang yang dirumuskan oleh Irving Ficher dan dikembangkan oleh Marshall.

Sementara itu teori moneter Keynesian menyatakan bahwa tingkat bunga sangat berpengaruh terhadap perilaku masyarakat untuk memilih memegang uang tunai atau surat-surat berharga. Penekanan faktor tingkat bunga terhadap keinginan memegang uang inilah yang memungkinkan analisis permintaan uang sebagai alat untuk memperoleh keuntungan. Permintaan uang menurut Keynes yaitu permintaan uang sebagai alat transaksi dan permintaan uang untuk spekulasi (Mandala & Pratama : 2004).

Dari beberapa teori permintaan uang di atas, Ada beberapa hal yang mempengaruhi permintaan uang (Yasinta.wordpress.com), diantaranya :

  1. Pendapatan riil. Semakin tinggi pendapatan seseorang, permintaan akan uang akan semakin besar. Hal ini karena konsumsi dan tabungan akan bertambah seiring dengan meningkatnya pendapatan.
  2. Tingkat suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, permintan uang untuk motif spekulasi akan berkurang. Tingginya suku bunga akan membuat biaya pinjaman uang untuk berspekulasi bertambah mahal. Selain itu, jika tingkat suku bunga tinggi, orang akan lebih baik menabung di bank dengan jaminan suku bunga yang ada daripada berspekulasi.
  3. Tingkat harga umum. Semakin tinggi tingkat harga umum, permintaan akan uang akan semakin bertambah. Hal ini karena harga barang/jasa bertambah mahal, sehingga dibutuhkan lebih banyak uang untuk membelinya.
  4. Pengeluaran konsumen. Misalnya saja pengeluaran konsumen pada bulan-bulan menjelang Natal, puasa, atau Hari Raya lainnya akan bertambah. Akibatnya, permintaan uang juga akan bertambah.

Peranan uang dalam perekonomian antara lain dapat meningkatkan efisiensi baik bagi produsen, konsumen dan kegiatan ekonomi pada umumnya. Uang yang beredar pada masyarakat yaitu uang kartal, uang giral, dan uang kuasi. Dalam perkembangannya, jumlah uang yang beredar yang ada di Indonesia tidak tertutup kemungkinan untuk mengalami kenaikan atau penurunan jumlah uang beredar. Gejala bertambahnya jumlah uang beredar merupakan fenomena ekonomi, karena berkaitan dengan fungsi uang sebagai alat tukar, yang semakin dibutuhkan pada saat perekonomian semakin berkembang. Ekonomi yang tumbuh dan berkembang mempunyai konsekuensi meningkatkan transaksi, yang membutuhkan uang guna mempermudah proses pembayaran.

Perkembangan perekonomian dunia dewasa ini ditandai dengan semakin terintegrasinya perekonomian antar negara. Indonesia mengikuti perkembangan tersebut melalui serangkaian deregulasi keuangan dan perbankan yang di mulai tahun 1983. Implikasi dari deregulasi tersebut adalah semakin meningkatnya integrasi dan interaksi antar berbagai unsur ekonomi yang menyebabkan struktur ekonomi menjadi dinamis dan kompleks. Struktur ekonomi yang kompleks akan merubah perilaku pelaku ekonomi yang diindikasikan dengan munculnya berbagai fenomena yang relatif baru bagi perekonomian Indonesia. Perkembangan industri keuangan non-bank seperti pasar modal akan mendorong terjadinya perubahan perilaku investasi (Wordskripsi.blogspot.com).

Selain itu, terlihat pula gejala merenggangnya hubungan antar variabel makro ekonomi. Kondisi ini pada akhirnya akan mempersulit otoritas moneter untuk mengambil keputusan dalam manajemen moneternya. Di Indonesia, kebijakan moneter sepenuhnya diserahkan kepada otoritas moneter yaitu Bank Indonesia. Dalam hal ini, jumlah uang beredar merupakan alat yang digunakan oleh Bank Indonesia dalam menetapkan kebijakan moneter. Jumlah uang beredar dipengaruhi oleh berapa besarnya jumlah uang kartal, jumlah tabungan masyarakat dan jumlah uang kuasi.

Berdasarkan data statistik jumlah perkembangan uang kuasi di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup bervariasi. Perkembangan jumlah uang kuasi di Indonesia dalam kurun waktu 2000 hingga tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 1.1.

 

 

Tabel 1.1 Pertumbuhan Uang Kuasi di Indonesia periode 2000-2010

Tahun M2 (Milyar Rupiah)
2000 747.028
2001 844.053
2002 883.908
2003 955.692
2004 995.935
2005 1.203.215
2006 1.382.074
2007 1.649.661
2008 1.895.836
2009 2.141.383
2010 2.230.236

Sumber: Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia.

Seperti terlihat pada Tabel di atas perkembangan jumlah uang kuasi di Indonesia selama periode 2000-2010 mengalami pertumbuhan yang bervariasi. Data statistik menunjukkan pada setiap tahunnya jumlah uang kuasi selalu mengalami pertambahan.

Pada Tahun 2005, kondisi likuiditas dalam perekonomian dalam arti luas (M2) mengalami perkembangan yang positif. Rata-rata laju pertumbuhan tahunan M2 secara nominal tercatat masing-masing mencapai 13,9%. Kendatipun pertumbuhan nominal M2 telah jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya, secara riil tumbuh negatif. Kondisi ini mengisyaratkan kuatnya tekanan terhadap daya beli perekonomian terutama pascakenaikan harga BBM. Di satu sisi, peningkatan tersebut terutama disumbang oleh perkembangan kuasi Rupiah berupa deposito dan simpanan valas, serta komponen M1 terutama dalam bentuk uang giral. Di sisi lain, peningkatan tersebut terutama disumbang oleh kondisi domestik, seiring dengan terus berlangsungnya pemberian kredit kepada bisnis dan rumah tangga yang terutama digunakan untuk modal kerja dan konsumsi. Sementara itu transaksi dengan pemerintah (Net Claims to Government) mengalami perkembangan yang moderat, atau menyiratkan terbatasnya implikasi moneter dari kebijakan fiskal. Adapun kondisi eksternal sebagaimana tercermin pada perkembangan aktiva bersih luar negeri (NFA) tumbuh cukup tinggi dari tahun sebelumnya (Laporan Kebijakan Moneter 2005).

Pada akhir Agustus 2006, secara nominal M2 tumbuh sebesar 13,9%. Kenaikan M2 tersebut disumbang oleh uang giral dan uang kuasi rupiah. Dari sisi faktor-faktor yang mempengaruhinya, kenaikan M2 terutama disumbang oleh kenaikan posisi kredit kepada bisnis dan rumah tangga. Kenaikan posisi kredit tersebut terjadi baik pada kredit rupiah maupun valas. Adapun secara riil, pertumbuhan M2 mulai tumbuh negatif dibanding akhir triwulan II-2006. Sementara itu penciptaan uang cukup stabil pada triwulan III-2006 walaupun dengan kecenderungan yang melambat.(Laporan Kebijakan Moneter 2006).

Pada tahun 2008 perkembangan M2 mengalami kenaikan, tapi tidak seperti tahun sebelumnya, pertumbuhannya relatif kecil yaitu sebesar 1.895.836 milyar rupiah. Hal ini di karenakan terjadinya krisis global, yang berdampak pada nilai tukar rupiah. Secara rata-rata nilai tukar mencatat pelemahan sebesar 13,8%, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 6,5%. Depresiasi yang terjadi disertai dengan peningkatan volatilitas, yang terutama dipicu oleh sentimen negatif pasar. Di sisi lain, tekanan inflasi mulai dirasakan mereda. Perkembangan eksternal dan permintaan dalam negeri yang melemah telah menyebabkan berkurangnya tekanan inflasi di dalam negeri. Kelompok harga makanan yang bergejolak (volatile food) mencatat penurunan laju inflasi yang besar dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini terkait dengan masih berlanjutnya penurunan harga komoditas internasional. Deflasi juga terjadi pada kelompok  harga barang yang ditentukan pemerintah (Laporan Kebijakan Moneter 2008).

Di Indonesia, jumlah permintaan uang tiap tahunnya selalu mengalami perubahan. Terutama pada jumlah uang kuasi, yang meliputi tabungan, giro dan deposito baik yang dalam bentuk rupiah maupun dalam bentuk valuta asing. Dengan adanya kenaikan dan penurunan jumlah uang kuasi tersebut, mengakibatkan terjadinya fluktuasi terhadap kondisi likuiditas perekonomian Indonesia. Jumlah uang beredar diluar kendali dapat menimbulkan konsekuensi atau pengaruh yang buruk bagi perekonomian secara keseluruhan. Konsekuensi atau pengaruh yang buruk dari kurang terkendalinya jumlah uang beredar tersebut antara lain dapat dilihat pada kurang terkendalinya perkembangan variable-variabel ekonomi utama, yaitu tingkat produksi (output) dan harga.

Peningkatan jumlah uang beredar yang berlebihan dapat mendorong peningkatan harga melebihi tingkat yang diharapkan sehingga dalam jangka panjang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, apabila peningkatan jumlah uang beredar rendah maka kelesuan ekonomi akan terjadi. Apabila hal ini berlangsung terus menerus, kemakmuran masyarakat secara keseluruhan akan mengalami penurunan. Kondisi tersebut antara lain melatar belakangi upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas-otoritas moneter dalam mengendalikan jumlah  uang beredar dalam perekonomian. Kegiatan mengendalikan jumlah uang beredar tersebut lazimnya disebut Kebijakan moneter, yang pada dasarnya merupakan salah satu bagian integral dari Kebijakan ekonomi makro yang ditempuh oleh otoritas moneter (Bank Indonesia, 2003).

Berdasarkan permasalahan di atas maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini menjadi sebuah penelitian  dalam bentuk skripsi dengan judul : ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN UANG DI INDONESIA (Periode 2000.I-2010.II).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Apakah variabel bebas tingkat bunga, pendapatan nasional, dan tingkat inflasi berpengaruh terhadap permintaan uang di Indonesia periode 2000.I – 2010.II?
  2. Dari ketiga variabel bebas tingkat bunga, pendapatan nasional, dan tingkat inflasi, manakah yang memiliki pengaruh dominan terhadap Permintaan Uang di Indonesia periode 2000.I-2010.II?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh tingkat bunga, pendapatan nasional dan tingkat inflasi terhadap permintaan uang di Indonesia periode 2000.I-2010.II.
  2. Untuk mengetahui diantara ketiga variabel bebas tingkat bunga, pendapatan nasional dan tingkat inflasi, manakah yang memiliki pengaruh dominan terhadap Permintaan Uang di Indonesia periode 2000.I-2010.II.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

  1. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai informasi dalam penelitian lebih lanjut pada permasalahan yang sama.
  2. Dengan Penelitian ini diharapkan dapat menjadikan bahan pertimbangan bagi   Pemerintah untuk membuat dan menentukan  kebijakan yang tepat di masa depan.
  3. Sebagai tambahan bahan pustaka serta sebagai tambahan pengetahuan bagi pembaca atau mahasiswa yang memerlukan informasi mengenai Permintaan Uang di Indonesia.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika Penulisan adalah sebagai berikut :

Bab I PENDAHULUAN

Menguraikan Latar Belakang Masalah, Rumusan Penelitian, Tujuan, Manfaat Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

Bab II LANDASAN TEORI

Menguraikan teori yang digunakan untuk membahas masalah yang diangkat dalam penelitian ini yang terdiri atas teori yang berkaitan dengan penelitan dan penelitian sebelumnya.

Bab III METEODOLOGI PENELITIAN

Menguraikan tentang metode penelitian yang mencakup pembahasan tentang ruang lingkup dan batasan penelitian serta perumusan model analisis yang digunakan dalam penelitian ini.

Bab IV PEMBAHASAN

Menjelaskan tentang analisis hasil penelitian.

Bab V PENUTUP

Merupakan penutup dari penulisan penelitian yang mengemukakan kesimpulan, yaitu hasil-hasil yang diperoleh dari hasil analisis dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya. Kemudian dengan dasar kesimpulan tersebut, akan dikemukakan saran-saran untuk penelitian lebih lanjut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s