Pasar Modal

Posted: January 22, 2011 in Studi Ekonomi
•Pasar Modal didefinisikan sebagai pasar berbagai instrument keuangan (sekuritas) jangka panjang yang bisa diperjual belikan, baik dalam bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yg diterbitkan oleh pemerintah, public authorities, maupun perusahaan swasta.
•Alasan Dibentuknya Pasar Modal :

Fungsi Ekonomi

•Pasar modal menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari lender ke borrower.
•Dengan menginvestasikan kelebihan dana yang dimilikinya, lenders mengharapkan  imbalan dari penyerahan dana tersebut.
•Dari sisi borrower adanya dana dari pihak luar memungkinkan dilakukan investasi tanpa harus menunggu dana hasil operasi perusahaan. Proses ini diharapkan akan terjadi peningkatan produksi, yang secara keseluruhan akan meningkatan kemakmuran

Fungsi Keuangan

Fungsi keuangan dilakukan dengan menyediakan dana yang diperlukan  oleh  para borrowers dan lenders menyediakan dana tanpa harus terlibat langsung  dalam kepemilikan aktiva riil yang diperlukan  untuk investasi tsb.

Beberapa daya tarik Pasar Modal :
•Diharapkan pasar modal akan menjadi alternative penghimpunan dana selain system perbankan.
•Pasar modal memungkinkan perusahaan menerbitkan sekuritas yang berupa surat tanda hutang (obligasi) ataupun surat tanda kepemilikan (saham).
•Perusahaan bisa terhindar dari kondisi debt to equity ratio (yaitu perbandingan antara hutang dengan modal sendiri) yang terlalu tinggi sehingga cost of capital of the firm tidak lagi minimal.
•Pasar modal memungkinkan para pemodal mempunyai berbagai pilihan investasi yang sesuai dengan preferensi risiko mereka.
•Para pemodal dapat melakukan diversifikasi investasi, membentuk portfolio sesuai dengan risiko yang mereka bersedia tanggung dan tingkat keuntungan yang mereka harapkan.
•Dalam keadaan pasar modal yang efisien, hubungan positif antara risiko dan keuntungan yang diharapkan akan terjadi.
•Dari sisi perusahaan yang memerlukan dana, seringkali pasar modal merupakan alternative pendanaan eksternal dengan biaya yang lebih rendah dibanding system perbankan.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PASAR MODAL
Supply Sekuritas
Demand akan sekuritas
Kondisi politik dan ekonomi
Masalah hukum dan peraturan
Peran lembaga-lembaga pendukung pasar modal :
•BAPEPAM (Badan Pengawas Pasar Modal)
•Bursa Efek
•Akuntan Publik
•Underwriter
•Wali Amanat (Trustee)
•Notaris
•Konsultan Hukum
•Lembaga Clearing
PERKEMBANGAN PASAR MODAL DI INDONESIA
Tujuan yang ingin dicapai pasar modal Indonesia, yaitu :
1.Untuk memobilisasikan dana di luar sistem perbankan
2.Untuk memperluas distribusi kepemilikan saham-saham, teruta-ma ke pemodal-pemodal kecil
3.Untuk memperluas dan memperdalam sektor keuangan

Kegiatan pasar modal Indonesia dimulai pada tahun 1977 sewaktu perusahaan PT Semen Cibinong menerbitkan sahamnya di BEJ.

•Penyebab kenaikan jumlah perusahaan yang terdaftar di BEJ untuk tahun 1989 Dan 1990 adalah :
BAPEPAM mulai menerapkan kebijakan baru yang mencampuri pembentukan harga saham di pasar perdana. Pembentukan harga saham perdana dipersilahkan untuk ditentukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu emiten dan para penjamin.

Batasan perubahan harga saham sebesar maksimum 4% setiap transaksi ditiadakan. Harga yang terbentuk diserahkan pada kekuatan permintaan dan penawaran.
Ada 2 kebijakan pemerintah yang mempunyai dampak sangat besar bagi perkembangan pasar modal, yaitu :
1.dikenakannya pajak sebesar 15 % atas bunga deposito.
2.Diijinkannya pemodal asing untuk membeli saham-saham yang terdaftar di BEJ.
Pada tahun 1992 mulai muncul cara penghimpunan  dana dari pasar modal dengan menerbitkan Bukti Right.
Bukti Right adalah menunjukkan hak yang dimiliki seorang pemodal untuk membeli suatu saham dengan harga tertentu.
Tujuan utama dari penerbitan Right adalah untuk tidak merubah proporsi kepemilikan pemegang saham dan menekan biaya emisi
Regulatory Framework adalah kebijakan pasar modal agar bisa meningkatkan dan mendorong tumbuhnya pasar yang teratur, terbuka dan efisien, dan memberikan perlindungan yang wajar kepada masyarakat dan pemodal.
BAPEPAM mempunyai kewajiban untuk :
1.Memonitor dan mengatur pasar, sehingga sekuritas diterbitkan dan diperdagangkan secara teratur, wajar, dan efisien agar kepentingan para pemodal dan masyarakat terlindungi.
2.Mengawasi dan memonitor pertukaran sekuritas, settlemen dan lembaga-lembaga penyimpanan, reksa dana, perusahan sekuritas dan para pialang, berbagai lembaga pendukung pasar modal dan para profesional

Untuk memberi rekomendasi tentang pasar modal kepada menteri keuangan

SEndiri vs Tidak biasa Sendiri

Posted: January 21, 2011 in Uncategorized

1. Versi orang yang tidak biasa SENDIRI

Menurut beberapa orang, kita tidak bisa hidup SENDIRI, karena manusia adalah mahkluk sosial, jadi butuh bantuan orang lain… bisa teman, keluarga, atau siapalah, pokoknya orang….hehehe..

 

2. Versi orang yang suka SENDIRI

tapi menurut dari beberapa narasumber dan dari orang2 jauh dekat… SENDIRI merupakan suatu kemandirian, mereka beranggapan, selama masih bisa dikerjakan sendiri, kenapa harus minta bantuan orang lain?? So what gitu lho, katanya syehkoji,,,ckckckckckck

 

pendapat yang kedua ini kayaknya lebih cocok dan pas, karena orang-orang yang beranggapan begitu, biasanya mempunyai karakter yang kuat, gak manja, n beranggapan selalu mampu menghadapi suatu apapun dengan dirinya sendiri, sedangkan pendapat yang pertama, memang dia tidak bisa hidup sendiri, tapi bukan berarti dia tidak mandiri… justru orang-orang yang butuh bantuan dalam menyelesaikan masalahnya adalah orang-orang yang mandiri… kenapa??? karena dia sudah berusaha menyelesaikan semua permasalahannya sendiri,,,suatu saat dia merasa bosen dan penat,, dia baru membutuhkan orang-orang terdekat untuk membantunya memecahkan masalah itu..

 

apa 2 karakter ini bisa bersatu??

bisa, bisa, bisa, karena pada intinya manusia punya permasalahan yang berbeda, dengan permasalahan yang berbeda tersebut, maka terjadilah saling tolong menolong, kerja sama, bahkan berdiskusi bareng atau musyawarah atau istilah kerennya curhat,hahahaha…sehingga semuanya akan baik-baik saja, dan satu demi satu permasalahan itu akan selesai…

 

Kehidupan semut, mereka berdamai,berkelompok, dan gotong royong demi mencapai sebuah tujuan…

apa kehidupan manusia juga seperti itu???

Even Welcome to Maba 2009 with J-Rocks & welcome to maba 2010 with Riverside n DJ Medy


Viper adalah UKMF seni, yang terdiri dari beberapa divisi, yaitu MUSIK, ENTERTAIMENT, dan EO. Entertaiment,
Viper Collaboration yang di singkat Viper-C adalah Unit Kegiatan Mahasiswa yang berada di bawah naungan fakultas pertanian Universitas Trunojoyo Madura……..
Viper-C di dirikan pada tanggal 26 Desember 2002….
Anggota dari Viper sendiri tidak untuk fakultas pertanian saja melainkan untuk seluruh fakultas yang ada di Universitas Trunojoyo Madura….

Event-event yang pernah di selenggarakan oleh Viper sebagai berikut :

1. Valentine Party With Flanella
2. Valentine Party Part #2
3. Valentine Day 2006
4. Welcome to MABA ( setiap tahun )
5. Nyare Malem I dan II ( Ngabuburit )
6. Parade Seni Akhir Tahun ( Paras Arta )
7. Dies Natalis Viper Collaboration with Junkfood and DJ – Rapper’s Malaysia
8. Festival Musik Cafe SURAMADU with The Boogie
9. Festival Musik Pelajar SURAMADU
10. Live Concert in Campus With Chrome ( Mei 2007 )
11. Innaguration Night Part Mini Soundrenaline 2008
12. Dies Natalis Viper Collaboration with Desix
13. Welcome to MABA 2009 with J – ROCKS and pemilihan King and Queen 2009.

Teori MOneter Klasik n Keynes

Posted: January 21, 2011 in Studi Ekonomi

Teori Moneter Klasik
Pendahuluan
Para tokoh utama Teori Moneter Klasik antara lain John Babtis Say, Irving Fisher dan A. Marshall. Say terkenal karena hukum yang dikemukakannya, bahwa penawaran akan selalu menciptakan permintaan (supply creates its own demand). Artinya, suatu perekonomian tidak akan mengalami underemployment atau underconsumption (Malthus). Pengeluaran total masyarakat akan selalu dapat mencukupi untuk menunjang produksi pada keadaan kesempatan kerja penuh (full employment).
Potensi output yang dapat dihasilkan tergantung pda tingkat teknologi dan banyaknya faktor produksi tenaga kerja. Makin tinggi tingkat teknologi dan makin tinggi jumlah serta kualitas tenaga kerja tingkat output potensial yang dapat dihasilkan juga makin besar. Artinya, tingkat full employment output dapat menjadi lebih besar. Keadan yang selalu full employment ini dapat tercapai melalui bekerjanya mekanisme pasar, yang oleh Adam Smith disebut dengan invisible hand.
Bila seseorang ingin bekerja tetapi tidak memperoleh pekerjaan, dia tentu akan menurunkan upah yang dikehendakinya samapai ada pengusaha yang mau mempekerjakannya. Demikian pula apabila terdapat pengusaha yang tidak dapat menjual semua hasil produksinya, maka dia akan menurunkan harganya sampai terjual habis. Upah dan harga yang bebas berubah akan menjamin selalu terdapatnya keseimbanagn dalam pasar tenaga kerja dan pasar barang sebagai hasilsaling mempengaruhinya antara permintaan dan penawaran melalui prinsip laissez faire (bebas, tanpa ada campur tangan pemerintah)
Tetapi Malthus menyangah argumentasi di atas dengan mengatakan bahwa meskipun produksi barang dan jasa tersebut menimbulkan pendapatan dalam jumlah yang sama dengan nilai total barang dan jasa, namun tidak dapat dipastikan bahwa pengeluaran untuk pembelian mesti sama dengan nilai barang dan jasa tersebut. Penawaran memang akan menciptakan tenaga beli, nmun belum menciptakan pengeluaran dengan jumlah yang sama.Misalnya jika masyarakat menabung terlalu banyak dari pendapatannya (lebih banyak dibandingkan dengan keinginan perusahaan untuk melakukan investasi), maka ada sebagian produksi yang tidak terjual. Akibatnya pengusaha akan memperkecil volume produksi, sehngga akan terjadi pengangguran. Pengusaha akan terus mengurangi produksinya sampai sisa yang tidak terjual itu habis semua, sehingga pendapatan akan menjadi lebih rendah daripada semula.
Sedang menurut ekonomi klasik, adanya tabungan masyarakat tersebut tidak berarti dana hilang dari peredaran, tetapi dipinjam atau dipakai oleh pegusaha untuk membiayai investasinya. Penabung mendapatkan bunga atas tabungannya, sedang pengusaha bersedia membayar bunga tersebut selama harapan keuntungan yang diperoleh dari investasi lebih besar dari bunga tersebut. Adanya kesamaan antara tabungan dengan investasi (tabungan meningkat=investasi meningkat), adalah sebagai akibat bekerjanya mekanisme tingkat bunga. Tingkat bunga akan berfluktusi sehingga keinginan investasi perusahaan samadengan keinginan menabung masyarakat.
Teori Klasik tantang Tingkat Bunga
Menurut Klasik, tabungan adalah fungsi dari tingkat bunga, makin tinggi tingkat bunga semakin tinggi pula keinginan masyarakat untuk menabung. Pada tingkat yang lebih tinggi, masyarakat akan terdorong untuk mengorbankan konsumsi untuk menambah tabungan. Demikian pula dengan investasi merupakan fungsi dari tingkat bunga, akan tetapi memiliki hubungan yang negatif.

Teori  Kuantitas Uang

Teori Irving Fisher

Prinsip dasar teori ini adalah falsafah Say, bahwa ekoomi akan selalu berada dalam keadaan Full Employment. Secara sederhana Irving Fisher merumuskan teorinya dengan suatu persamaan.

M.V = P.T

Dimana     M   : Jumlah Uang

V    : Tingkat Perputaran Uang (velocity)

P    : Harga (price)

T    : Volume barang yang menjadi obyek transaksi

Persamaan di atas merupakan suatu identitas (identity), yang menggambarkan total pengeluaran (MV) samadengan barang yang dibeli (PT), dan belum menyentuh tentang kuantitas uang.

Cambridge/Marshall Equation

Marshal lebih menekankan pada perputaran uang (velocity) dalam suatu periode malainkan pada bagian dari pendapatan (GNP) yang diwujudkan dalam uang kas. Secara matematika sederhana, teori Marshall dapat ditulis sebagai berikut :

M = k.P.Y

Dimana     M   : Jumlah Uang

k    : Bagian dari GNP yang diwujudkan uang kas, k = 1/v

P    : Harga (price)

Y    : GNP riil

  1. Marshall tidak menggunakan volume transaksi (T) sebagai alat pengukur jumlah output, tetapi diganti dengan Y. T lebih besar dari Y, karena Y tidak termasuk barang setengah jadi.
  2. Persamaan Marshall sudah menunjukkan adanya permintaan uang dimana masyarakat menghendaki bagian tertentu dari pendpatannya diwujudkan dalam bentuk uang kas, yang ditunjukan dengan nilai k. (teori kuantitas uang)
  3. Menurut teori kuantitas uang, perubahan JUB mengakibatkan perubahan harga secara proporsional. Kalau JUB naik 2 kali, harga juga akan naik 2 kali.
  4. Pandangan di atas didasarkan pada anggapan-anggapan sebagai berikut :
  1. Persamaan MV = PT, T dianggap tetap karena selalu dalam keadaan full employment (Say)
  2. V juga dianggap tetap, karena perubahan cara pembayaran akan terjadi dalam waktu yang lama, sehingga k = 1/v juga tetap.
  1. Kongklusi : JUB hanya mempengaruhi harga secara proporsional. Uang tidak mempengaruhi output riil (Y). Y hanya dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas faktor produksi.

Teori Moneter Keynes

Pendahuluan

Keynes dalam bukunya yang berjudul “The General Theory of Employment, Interest and Money”, 1936 melakukan kritik terhadap teori Klasik. Menurut keynes, mekanisme pasar tidak secara otomatis menciptakan Full Employment dalam perekonomian. Oleh karena itu membutuhkan camput tangan pemerintah (investasi yang besar) sebagaimana disampaikan dalam kumpulan kuliahnya di Oxford University yang diterbikan ahun 1926 dengan judul ”The End of Laissez Faire”, dalam bukunya dinyatakan ;

“I believe that some coordinate act of intelligent judgement is required as to the scale on which it is desirable that the community as a whole should save, to scale on which these savings should go abroad in the form of foreign investments, and whether the present organization ot the investment market distributes savings along the most nationally productive channels. I do not think that these matter should be left entirely to the chances of private judgement and privat profits, as they are at present”

A Tract on Monetary Reform merupakan buku Keynes yang menegaskan pentingnya kebijakan stabilitas harga. Instabilitas harga memiliki dampak yang berbeda terhadap tiga golongan masyarakat.

1. Investor, dirugikan pada sat terjadi inflasi (kenaikan harga)

2. Pengusaha, dirugikan saat terjadi deflasi

3. Penerima Upah, dirugikan saat terjadi deflasi

Oleh karena itu diperlukan kebijaksanaan tentang Stabilitas Harga oleh pemrintah, karena stabilisasi tidak dapat dilakukan dalam sistim moneter saat itu (standar emas).

Keseimbangan Pendapatan Nasional

Keynes membantah Klasik dimana S = I dalam keadan full employment. Menurut Keynes, dalam kenyataan S ≠ I, dan keseimbangan pendapatan dpat tercapai sebelum full employment.

Contoh Kasus :

Output Perusahaan (FE) Rp. 1.000,- juta (Y) dengan kasus sebagai berikut ;

1. Perusahaan Menjual 800 Persediaan 200 Keinginan perusahaan tepat sama dengan keinginan Rumah Tangga
2. Konsumen / RT Membeli 800 Tabungan 200
3. Konsumen / RT Membeli 700 Tabungan 300 Keinginan tidak sama, bagaimana ?

Terhadap kasus no 3 di atas Klasik dan Keynes memiliki pendapat dan penyelesaian yang berbeda ;

KLASIK KEYNES
Keinginan menabung > investasi ð Output tdk terjual ð harga turun sampai terjual habis ð Upah turun karena produksi berkurang dan buruh tidak beredia menganggur ð Bunga turun karena S > I ð Tabungan turun & konsumsi naik ð S = I dalam keadaan FE Keinginan menabung > investasi ð Perusahaan mengurangi produksi ð Output akan turun selama S>I, dan berhenti saat S=I ð Tercipta keseimbangan baru dimana Yeq baru < Yeq lama

Utang luar Negeri

Posted: January 18, 2011 in Studi Ekonomi

1. LATAR BELAKANG UTANG LUAR NEGERI
Pinjaman luar negeri adalah semua pinjaman yang menimbulkan kewajiban membayar kembali terhadap pihak luar negeri baik dalam valuta asing maupun dalam Rupiah. Termasuk dalam pengertian pinjaman luar negeri adalah pinjaman dalam negeri yang menimbulkan kewajiban membayar kembali terhadap pihak luar negeri.
Pinjaman luar negeri Indonesia dibedakan dalam 2 kelompok besar, yaitu pinjaman luar negeri yang diterima Pemerintah (public debt) dan pinjaman luar negeri yang diterima swasta (private debt). Dilihat dari sumber dananya, pinjaman luar negeri dibedakan ke dalam pinjaman multilateral, pinjaman bilateral dan pinjaman dindikasi. Sedangkan dilihat dari segi persyaratan pinjaman, dibedakan dalam pinjaman lunak (concessional loan), pinjaman setengah lunak (semi concenssional loan) dan pinjaman komersial (commercial loan).
Selain pinjaman luar negeri, terdapat juga penerimaan dalam bentuk hibah. Menurut Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Keuangan dengan Ketua BAPPENAS No.185/KMK.03/1995 dan No. KEP.031/KET/5/1995 tanggal 5 Mei 1995 yang telah dirubah dengan SKB No. 459/KMK.03/1999 dan No.KEP.264/KET/09/1999 tanggal 29 September 1999 tentang Tatacara Perencanaan, Pelaksanaan/Penatausahaan dan Pemantauan Pinjaman/Hibah Luar Negeri dalam Pelaksanaan APBN, pengertian Pinjaman Luar Negeri, adalah setiap penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan atau dalam bentuk jasa yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu.
Sedangkan Hibah Luar Negeri, adalah setiap penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan atau dalam bentuk jasa temasuk tenaga ahli dan pelatihan yang diperoleh dari pemberi hibah luar negeri yang tidak perlu dibayar kembali. Pinjaman luar negeri yang diterima Pemerintah, dimaksudkan sebagai pelengkap pembiayaan pembangunan, disamping sumber pembiayaan yang berasal dari dalam negeri berupa hasil perdagangan luar negeri, penerimaan pajak dan tabungan baik tabungan masyarakat dan sektor swasta. Salah satu masalah dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi yang dihadapi negara-negara berkembang termasuk Indonesia adalah keterbatasan modal dalam negeri (Laporan BI, 2005).
2. PROFIL UTANG LUAR NEGERI
Utang luar negeri Republik Indonesia terus membumbung tinggi. Data Bank Indonesia (BI) mencatat, sampai akhir Januari 2010, utang luar negeri mencapai 174,041 miliar dollar AS. Bila dikonversi ke dalam mata uang Rupiah dengan kurs Rp 10.000 per dollar AS nominal utang itu hampir mencapai Rp 2.000 triliun.
Nilai utang ini naik 17,55 persen dari periode yang sama tahun lalu. Akhir Januari 2009, nilai utang luar negeri Indonesia baru sebesar 151,457 miliar dollar AS. “Dari sisi nominal memang naik, namun jika kita melihat dari persentase debt to GDP ratio, angkanya terus menurun. Nilai utang tersebut terdiri atas utang pemerintah sebesar 93,859 miliar dollar AS, lalu utang bank sebesar 8,984 miliar dollar AS. Lalu, utang swasta alias korporasi non-bank sebesar 75,199 miliar dollar AS (www.surya.co.id).
Bank Indonesia (BI) mengatakan bahwa utang luar negeri Indonesia per Maret 2010 mencapai 180,7 miliar dolar AS atau naik sekitar 2 miliar dolar dibanding per Februari senilai 178,5 miliar dolar AS. “Penambahan ini muncul dari SBI dan SUN serta pembayaran yang nilainya sekitar 2,2 miliar. Utang tersebut terdiri dari pinjaman pemerintah 95,1 miliar dolar AS, BI tercatat 10,5 miliar dolar AS dan swasta 75,1 miliar dolar AS. Utang swasta ini juga dibagi utang bank mencapai 10,2 miliar dolar AS dan non bank senilai 64,9 miliar dolar. Utang swasta ini tidak mengalami perubahan dengan Februari yang masih tetap di angka Rp75,1 miliar dolar, sedangkan utang pemerintah BI per Februari 103,4 miliar dolar AS dan Maret 2010 menjadi 105,6 miliar dolar AS. Utang Indonesia mengalami peningkatan, tetapi secara rasio terhadap PDB (produk domestik bruto) angkanya kecil dan jauh lebih baik dibanding rasio negara-negara lain.
Berdasarkan data kementerian keuangan rasio utang terhadap GDP per 2009 sebesar 29 30 persen dan pada tahun ini diperkirakan sebesar 30 persen. Rasio ini lebih rendah dibandingkan dengan negara maju lainnya, seperti AS 87 persen dan pada 2010 diperkirakan 99,30 persen, sedangkan Jepang saja pada 2009 rasio utangnya sebesar 216,50 persen dan 2010 diperkirakan 223,40 persen (www.antaranews.com).
3. KONDISI UTANG LUAR NEGERI
Di awal krisis Utang luar negeri kita bertambah US$ 42, 3 milyar. Terdiri dari: pinjaman dari IMF sebanyak US$ 11,2 milyar, pinjaman multilateral sebanyak US$10.0 milyar, pinjaman bilateral sebanyak US$ 21,1milyar.
Sampai saat ini, yang sudah dicairkan sebanyak US$ 6,0 milyar. Jadi keseluruhan utang luar negeri kita sekarang adalah US$ 145 milyar. Jatuh tempo hutang tersebut:
– untuk swasta rata-rata 5 tahun,
– untuk utang pemerintah 10 tahun,
– untuk pinjaman lunak, jatuh temponya 20 tahun. Jadi, beban utang ini akan ditanggung generasi 5 sampai 20 tahun mendatang.
Hasil studi empiris, Pengeluaran pembangunan dan defisit anggaran memberikan efek negatif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (periode 1983 s/d 1993). Jadi ada indikasi bahwa alokasi investasi sektor publik (pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, dan pemukiman) menjadi terkorbankan demi pembayaran utang
4. PENYEBAB BESAR UTANG
1) Strategi defisit anggaran : strategi defisit anggaran tanpa diimbangi dengan kontrol akan sangat berbahaya. Selama ini Indonesia selalu menerapkan strategi ini, dengan harapan, jika utang kepada luar negeri, maka hasil dari utang tersebut digunakan untuk pembiayaan pembangunan, sehingga sektor riil berkembang dan harapannya pendapatan nasional dapat meningkat signifikan. Namun hasil dari pendapatan nasional ini tidak sepenuhnya digunakan untuk membayar utang luar negeri.
2) Tidak menyadari secara penuh biaya yang harus ditanggung di masa depan Pemikiran irasional banyak mendominasi penentu kebijakan di negara sedang berkembang dalam melakukan utang (Alesina dan Tabellini)
3) Adanya faktor sosial politik dari penentu kebijakan Faktor sosial dan politik lebih dominan dibanding faktor ekonomi dalam melakukan utang (Sebastian Edwards).
5. DAMPAK UTANG LUAR NEGERI
 Pada sisi efektifitasnya, secara internal, utang luar negeri tidak hanya dipandang menjadi penghambat tumbuhnya kemandirian ekonomi negara-negara Dunia Ketiga. Utang diyakini menjadi pemicu terjadinya kontraksi belanja sosial, merosotnya kesejahteraan rakyat, dan melebarnya kesenjangan.
 Sedangkan secara eksternal, utang luar negeri diyakini menjadi pemicu meningkatnya ketergantungan negara-negara Dunia Ketiga pada pasar luar negeri, modal asing, dan pada pembuatan utang luar negeri secara berkesinambungan .
 Pada sisi kelembagaannya, lembaga-lembaga keuangan multilateral seperti IMF, Bank Dunia, dan Asian Development Bank (ADB). Keduanya diyakini telah bekerja sebagai kepanjangan tangan negara-negara Dunia Pertama pemegang saham utama mereka, untuk mengintervensi negara-negara penerima pinjaman.
 Pada sisi ideologinya, utang luar negeri diyakini telah dipakai oleh negara-negara pemberi pinjaman, terutama Amerika, sebagai sarana untuk menyebarluaskan kapitalisme neoliberal ke seluruh penjuru dunia. (Erler, 1989).
 Sedangkan pada sisi implikasi sosial dan politiknya, utang luar negeri tidak hanya dipandang sebagai sarana yang sengaja dikembangkan oleh negara-negara pemberi pinjaman untuk mengintervensi negara-negara penerima pinjaman. Secara tidak langsung negara-negara kreditur diyakini turut bertanggungjawab terhadap munculnya rezim diktator, kerusakan lingkungan, meningkatkan tekanan migrasi dan perdagangan obat-obat terlarang, serta terhadap terjadinya konflik dan peperangan (Gilpin, 1987; George, 1992; Hanlon, 2000).
6. ARAHAN GBHN TERHADAP UTANG LUAR NEGERI
Berkaitan dengan pengelolaan pinjaman luar negeri, arahan kebijakan ke depan yang tertuang dalam GBHN Tahun 1999-2004 Bab IV Sub Bab Ekonomi memberi arahan agar pemerintah:
1. Mengembangkan kebijakan fiskal dengan memperhatikan prinsip transparansi, disiplin, keadilan, efisiensi, efektifitas, untuk menambah penerimaan negara dan mengurangi ketergantungan dana dari luar negeri.
2. Mengoptimalkan penggunaan pinjaman luar negeri pemerintah untuk kegiatan ekonomi produktif yang dilaksanakan secara transparan, efektif dan efisien. Mekanisme dan prosedur peminjaman luar negeri harus dengan persetujuan DPR dan diatur dengan undang-undang.
3. Menyehatkan APBN dengan mengurangi defisit anggaran melalui peningkatan disiplin anggaran, pengurangan subsidi dan pinjaman luar negeri secara bertahap, peningkatan penerimaan pajak progresif yang adil dan jujur, serta penghematan pengeluaran.
4. Melakukan renegosiasi dan mempercepat restrukturisasi utang luar negeri bersama-sama dengan Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, lembaga keuangan internasional lainnya, dan negara donor dengan memperhatikan kemampuan bangsa dan negara, yang pelaksanaannya dilakukan secara transparan dan dikonsultasikan dengan DPR.
7. RESTRUKTURISASI PINJAMAN LUAR NEGERI
Penurunan nilai tukar Rupiah yang sangat tajam sebagai rangkaian krisis ekonomi dan krisis moneter yang melanda Indonesia sejak bulan Juli 1997 mengakibatkan sebagian besar peminjam swasta tidak dapat lagi memenuhi kewajiban luar negeri yang jatuh tempo. Sementara itu disisi Pemerintah, krisis nilai tukar juga menyebabkan meningkatnya beban pembayaran kembali pinjaman luar negeri yang akan menjadi beban dalam APBN. Untuk menyelesaikan permasalahan pinjaman luar negeri tersebut, untuk pinjaman yang diterima swasta, Pemerintah telah membentuk Tim Penanggulangan Masalah Utang-Utang Perusahaan Swasta Indonesia (THSI).
Sedangkan utang penyelesaian pinjaman luar negeri yang diterima Pemerintah, dibentuk satuan tugas yang terkoordinir yang terdiri dari Departemen Keuangan, Bank Indonesia dan Bappenas dalam rangka melaksanakan negosiasi restrukturisasi utang. Baik THIS maupun satgas yang dibentuk Pemerintah tersebut, mempunyai tugas untuk melakukan negosiasi terhadap kreditur luar negeri dalam rangka restrukturisasi pinjaman luar negeri yang diterima swasta, Pemerintah Indonesia telah melakukan pembicaraan dengan steering committee yang terdiri atas 13 perbankan internasional dengan co-chairman Deutche Bank, Chase Manhattan Bank dan Bank of Tokyo Mitsubishi untuk mewakili seluruh kreditur. Dalam perundingan antara Pemerintah Indonesia dengan steering committee yang berlangsung di Frankfurt tanggal 1-4 Juni 1998, menghasilkan Frankfurt Agreement yang terdiri atas 3 kesepakatan :
• Trade Maintenance Facility (TMF), yaitu perbankan luar negeri akan memberikan dan membuka credit line dalam rangka perdagangan internasional kepada perbankan Indonesia
• Interbank Debt Exchange Offer Program (EOP), yaitu perbankan luar negeri akan menjadwal ulang pinjaman luar negeri perbankan Indonesia
• Indonesian Debt Restructuring Agency (INDRA), yaitu penyelesaian utang luar negeri swasta melalui upaya restrukturisasi utang.
Sementara itu untuk menyelesaikan utang luar negeri Pemerintah, telah dilakukan berbagai upaya dan negosiasi untuk mendapatkan keringanan pembayaran utang dengan memanfaatkan forum Paris Club. Dalam 3 kali pertemuan, telah dihasilkan perolehan keringanan pembayaran pinjaman dengan penjadwalan kembali pembayaran utang dari kesepakatan sebelumnya, baik pokok maupun bunganya (Laporan BI,2005).

Bermodalkan nekat dan mempunyai satu misi, agar muswa FE segera terlaksana, hari minggu tanggal 3 januari 2010,kita merapatkan barisan,waktu itu hanya 5 orang, saya,saudara sumarto,saudara leyhod,saudara indra dan saudari elin, kami semua rapat tanpa kejelasan ketua umum DPMF-E saudara bagus yang pada waktu itu seolah-olah dia menghilang,kami coba hubungi via sms,telpon,Facebook,tetap tidak bergeming satu orang ini.
Akhirnya kami sepakat tanpa ketuapun kita harus jalan, kami mematangkan konsep dan siap melaksanakan muswa 2 FE,besoknya, tepatnya hari senin kami semua mengantarkan proposal ke PD 3 FE,disepakati oleh PD 3,akhirnya tanggal 5 januari 2010, muswa FE di mulai,dengan pembukaan dari ketupel, kemudian lanjut dengan pembukaan PD3. semuanya selesai, acara dilanjut dengan sidang pleno 1 yaitu Pembahasan agenda acara Muswa II FE yang di pimpin oleh presidium sementara yaitu saudara syaif. pembahasan agenda acara selesai,lanjut ke penetaban agenda acara muswa II FE,sidang di pending pukul 21.00. selanjutnya yaitu pembahasan tata tertib Muswa II,yang terjadi perdebatan panjang,sampai akhirnya terjadi kesepakatan antara semua pihak,dan di tetapkannya tatib muswa II FE.
masih di sidang pleno 1, dengan acara selanjutnya yaitu pemilihan presidium tetap, saat itu ada 3 yang terpilih,yaitu saudara humaidi sebagai presidium tetap sekaligus ketua presidium ,saudara saif sebagai presidium 1, dan saudara wahed sebagai presidium 3.
hari ke-2 tanggal 6 januari 2010 pukul 17.00, sidang pleno 2, yaitu pembacaan LPJ DPMf-E dan Pembacaan LPJ BEM FE, secara umum LPJ DPMF-E dan BEM FE diterima oleh forum dengan baik, lalu pembahasan sidang pleno II, yaitu pembahasan UKMF baru dan sidang komisi,dan pembahasan hasil sidang komisi. di lanjut dengan pembahasan kriteria calon Gubernur BEM FE, dimana dari pihak forum dan panitia, semuanya sepakat agar calon yang mendaftarkan diri semuanya bisa lolos, akhirnya poin2 yang kami sepakati adalah, bertakwa kepada tuhan yang maha esa,mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar, mampu menghafal dan memahami tri dharma perguruan tinggi, dan yang terakhir, tidak sedang menjabat sebagai anggota/ketua dari suatu badan kelengkapan pada tahun 2008-2009.
pada hari ke-3 tanggal 7 januari 2010, yaitu pendaftaran calon gubernur BEM FE dan DPM-FE, calon BEM FE ada 3 orang. yaitu yudi’ (EP),syaiful (AK) dan afrizal (AK). lalu untuk calon DPMF-E ada 14 orang, yaitu Wildan (EP), Firmansyah (EP) Bagus (EP), Wakit (MJ),Satiyah (MJ),DEvi(MJ),Aththariq(MJ),Kholirur Rahman (AK),Fahrul (AK),Selvia (AK),Siti Aisah (AK),Aulia(AK), Tuba (AK), Qaiyim Asyari (AK).
Pada Hari ke-4 tanggal 8 januari 2010 adalah acara debat, dimana setiap calon gubernur menyampaikan visi dan misinya sekaligus kampanye di depan kawan2 mahasiswa FE, dengan panelis dari Bapak Rochim mantan PD3 FE, dan bapak Junaidi selaku PD 3 FE.
Akhirnya pada hari senin tanggal 11 januari 2010, terjadi pemilu raya di FE, semuanya mengawasi, semuanya memperhatikan dan semuanya menggunakan hak pilihnya untuk memilih Gubernur baru di FE. dengan penuh semangat panitia memulai perhitungan suara DPMF dan Calon Gubernur BEM. dari perhitungan Surat Suara Gubernur BEM, saudara yudi’ dengan 204 suara, saudara syaiful dengan 172 suara dan afrizal memperoleh 119 suara, akhirnya saudara yudi’ dari EP terpilih menjadi GUBERNUR BEM FE periode 2009-2010.
selesai sudah perjuangan panitia Muswa 2 FE, terimakasih pada kawan2 all panitia yang telah membantu ide,tenaga,dan pikiran sehingga kita bisa melaksanakan muswa 2 ini dengan baik,, terimakasih juga pada PD 3 FE Bapak Junaidi,Bu Rita, dan Pak Markowi.

-Panitia MUSWA 2 FE-